Wasit Syar'i
Aripin Ilhamudin Armain, putra dari seorang Ibu yang mendambakan anaknya menjadi seorang Dai, dan dari seorang Bapak yang ingin anaknya menjadi seorang pemain sepak bola.
Suatu hari setelah lulus pesantren Udin (nama panggilannya) berfikir keras bagaimana cara agar dia dapat mewujudkan Impian kedua orangtuanya. Hingga akhirnya dia menemukan sebuah solusi yang menurutnya paling ampuh.
"Bu, benar ibu ingin saya menjadi seorang da'i?" tanya nya setelah sholat isya berjamaah. "Iya, ibu ingin kamu menjadi seorang da'i nak," "Bukankah da'i adalah orang yang menyeru kepada kebaikan?" tanyanya lagi, "benar nak," jawab sang Ibu tersenyum. Udin pun mencium tangan Ibunya lalu beranjak. "Berarti, jika saya bisa menyeru dan mengajak orang lain kepada kebaikan, saya sudah menjadi seorang da'i" ucapnya dalam hati yang diiringi dengan keyakinan yang mantap.
Dan dimalam lain saat sang Bapak tengah menyaksikan pertandingan antara Real Madrid vs Barcelona, Udin yang tiba2 duduk disampingnya lantas bertanya, "Pak, pemain bola itu cukup yang ada dilapangan ya?", "Ya nggak lah din, yang dipinggir itu juga termasuk, wasit, pelatih, official, hakim garis, kalo ngga ada mereka, gak sah Liga nya" "Oh begitu," jawab Udin mengangguk.
Hingga akhirnya beberapa minggu kemudian Udin menghampiri kedua orangtuanya sambil membawa selembar formulir tanda diterimanya dia menjalani Pendidikan untuk menjadi seorang WASIT.
Sang Ibu yang kaget lantas berucap, "Udin.. Ibu ingin kamu jadi da'i, bukan wasit." Begitu pula sang Bapak yang sedikit kecewa karena berharap Udin menjadi seorang pemain sepak bola terkenal seperti Ronaldo.
Udin mengambil nafas tenang, lalu menjelaskan. "Pak, Bapak bilang wasit juga termasuk pemain sepak bola, dan Ibu bilang ingin saya menjadi seorang yang menyeru kepada kebaikan, yang bisa melakukan hal itu di permainan sepak bola ya cuma Wasit". Kedua Orangtua Udin mencoba untuk memahami. "Tapi gimana kamu bisa dakwah sambil jadi Wasit din? tanya sang Ibu. "Udin bakal jadi wasit syar'i". Meskipun diawal mereka kurang begitu mengerti, akhirnya kedua orang tua udin merestui pilihan Udin menjadi seorang Wasit, Wasit Syar'i.
Singkat cerita Udin menjadi Wasit terkenal, tidak ada SATUPUN pertandingan yang dipimpinnya tidak berjalan Fair Play. Udin pun menjadi seorang Wasit kelas Dunia namun begitu jarang sekali menjadi Wasit di Indonesia.
Hingga suatu hari datang beberapa tamu yang berkunjung ke kediaman Orangtua Udin hendak mewawancarai hal tersebut.
"Bagaimana anak bapak bisa menjadi seorang Wasit kelas Dunia yang bisa memimpin pertandingan dengan baik disetiap pertandinga?"
"Oh, kalo itu karena anak saya menjadi Wasit Syar'i" jawab sang bapak.
"Maksudnya?"
"Jadi sebagai wasit, anak saya itu tidak menghukum pelanggaran ringan dengan Kartu Kuning, tetapi diganti dengan Nasehat Kebaikan,"
Para penanya berfikir, "bagaimana hanya dengan nasehat, pertandingan sepak bola yang tensi nya berubah-ubah bisa selalu berjalan lancar?"
Lalu salah seorang penanya bertanya, "Bagaimana dengan Hukuman pelanggaran yang Berat pak?"
"Di-Rajam"
Comments
Post a Comment