Posts

Showing posts from 2017

Kang Cimol 17-an

Hiduplah Indonesia Raya... Assalammualaikum, waduh pagimana nih kabar pelanggan-pelanggan Cimol Abang? Masih pada ga waras apa udah sembuh? mudah-mudahan si udah sembuh ya, maap nih Abang baru nongol lagi, kemaren nyoba-nyoba ikut borongan bangunan ke kalimantan, ehh rasanya... kalo cape sih biasa ya, tapi kangennya itu kita ama anak, apalagi ama bini, belom lagi godaannya, ampun dah, Abang biar jelek gini kan orangnya setia. swittwiwww... Jadi Abang mutusin buat balik lagi kemari, enakan dagang cimol, biar untungnya ga kaya jualan emas tapi bisa deket terus ama keluarga, ati juga ga was-was. Ngomong-ngomong tadi abang denger tuh bocah-bocah SD pada nyanyi lagu INDONESIA RAYA, Abang jadi inget waktu sekola. eittt... pasti lu mikir emang Abang pernah sekola ya? bujug.. bangku sekolaan abis empat abang makan, makannya sampe kelas 3 abang dikeluarin, rugiin sekolaan katanya, hee.. yaa abisnya mao gimana, orang susah, abang kadang dua hari kaga makan, boro-boro punya uang jajan bua...

SELAMAT ULANG TAHUN SAUDARAKU,

Image
17-8-1945 Kau dikenal sebagai Manusia, lahir dari rahim Ibu pertiwi yang perkasa, beriring darah Ayah Nusantara, Tujuh puluh dua tahun hampir usia mu, tepat satu minggu yang akan tiba, namun kau tampak bak remaja sedang mencari jati diri katanya, Aku tidak melihat mu sebagai sosok tua renta namun urat-urat syarafmu tampak tak sehat, tulang tulangmu terlihat sulit menopang beban bahkan sekedar beban tubuhmu sendiri, Mungkin makan mu kurang teratur, atau terlalu lelah, Atau karena kau tidak tahu mana makanan yang baik dan bergizi dan sering mengerjakan pekerjaan yang sia-sia yang tak sesuai, hingga hanya lelah yang kau rasa? Ayolah.. kau bukan lagi anak kecil, yang setiap tingkahnya harus dimaklumi dan dimaafkan, Bukan pula harus selalu dituntun dan disuapi, Kau masih belia  dibanding tetangga mu yang berusia ratusan tahun itu masih tiga kali lipatnya, namun kau harus menggunakan Otak mu, hmh.. aku sering mengerjai ...

Ramadhan dan (sisi lain) Persahabatan

"Berpuasa menahan haus dan lapar itu hanya 30 hari, tapi puasa menahan amarah, tidak melakukan hal buruk baik lisan maupun perbuatan terhadap makhluk lain itu kita lakukan sepanjang hidup."  Ramadhan menjadi momen dimana kita belajar untuk dapat mengendalikan hawa nafsu, lahir atau batin. Tidak hanya menahan haus dan lapar, kita juga dituntut untuk menahan lisan dan perbuatan dari hal-hal yang kurang baik, kurang sopan, kurang etis. Namun pada kenyataannya, menahan lisan dan perbuatan dari kalimat-kalimat yang menurut sebagian besar orang 'tidak santun' nampaknya tidak berlaku bagi sekelompok orang yang berkumpul dalam lingkup yang banyak orang sebut PERSAHABATAN. Tidak bisa kita pungkiri, nama-nama penghuni kebun binatang, tangan dan kelakuan jahil kerap kali sulit terlepas dari keseharian mereka, bercanda, tertawa, saling menghina satu sama lain hingga taraf 'membully' bukan lagi menjadi hal aneh bagi mereka. Memang hal tersebut buka...

LUCUNYA ZAMAN INI

Image
Aku bingung dizaman yang serba masuk akal ini, Banyak tingkah dan kalimat yang terlontar Justru keluar dari konteks logika manusia, Dimasa Demokrasi, Hukum rimba yang jadi panutan, Mengaum-ngaum bagai Singa Atau Kambing kelaparan, Keinginanpun semakin tinggi, Dahulu dokter, insinyur, presiden yang jadi Idola, Kini semua ingin menjadi Tuhan, Dengan mencatut nama Tuhan, Dan mengemis kepada Tuhan, Lucu, Saking lucunya hingga terlihat aneh, Namun standar 'kepintaran' menjadi lebih sederhana, Saling menguntungkan, Untung sendirian, Ya rendah-rendahnya balik modal, Nah kalau sampai rugi, Itu sudah benar-benar 'Bodoh' dizaman ini, Bahkan Humor atau Hiburan sudah berubah maknanya, "Aku berhasil mengalahkan Kamu" Itu makna humor dimasa ini, Lalu orang-orangpun bersorak dan tertawa, Aku yang melihatnya merasa aneh, Semasa kecil hidup di Indonesia Kepada siapa mereka berguru? Rasaku tidak ada pola seperti itu.. Ditambah kalau dip...

MIMPI,

Image
Aku terlahir bukan tanpa cela, Dalam nikmatnya kehidupan yang tak banyak orang mau, Aku hidup didalamnya, Berjalan diantara kerikil dan duri semak belukar Kaki yang tergores atau tangan yang berdarah, Bukanlah hal baru bagiku, Merintih, Menangis, Rasanya tak lagi menjadi pilihan, Akupun tak memiliki dendam Segala apa yang kurasa disini Bagai lelucon yang takkan habis aku nikmati, Tuhan.. Kau telah sering menguji ku, Dan aku tahu Kasih-Mu lebih besar, Dan diantara sinisnya dunia memandang Aku akan tetap melangkahkan kaki Meyakini apa yang aku tuju, Dengan terus berpegang kepada-Mu, Karena Kau tahu Takkan habis harap ku pada-Mu, Mimpi ini takkan hanya menjadi angan, Mimpi ini takkan hanya menjadi sebuah kata, Karena selalu ada Do'a dalam setiap langkahnya, Dan karena aku tahu, Engkau memberikan kami semua kesempatan yang sama.

Wasit Syar'i

Aripin Ilhamudin Armain, putra dari seorang Ibu yang mendambakan anaknya menjadi seorang Dai,  dan dari seorang Bapak yang ingin anaknya menjadi seorang pemain sepak bola. Suatu hari setelah lulus pesantren Udin (nama panggilannya) berfikir keras bagaimana cara agar dia dapat mewujudkan Impian kedua orangtuanya. Hingga akhirnya dia menemukan sebuah solusi yang menurutnya paling ampuh. "Bu, benar ibu ingin saya menjadi seorang da'i?" tanya nya setelah sholat isya berjamaah. "Iya, ibu ingin kamu menjadi seorang da'i nak," "Bukankah da'i adalah orang yang menyeru kepada kebaikan?" tanyanya lagi, "benar nak," jawab sang Ibu tersenyum. Udin pun mencium tangan Ibunya lalu beranjak. "Berarti, jika saya bisa menyeru dan mengajak orang lain kepada kebaikan, saya sudah menjadi seorang da'i" ucapnya dalam hati yang diiringi dengan keyakinan yang mantap. Dan dimalam lain saat sang Bapak tengah menyaksikan pertandingan antara Re...

Bukan Nelayan Indonesia, Nelayan Bodoh Buatan Kaum Kapitalis

Image
Ini biasa namun tak biasa Selalu ada rahasia dibalik kosakata Mengombang-ambing kumpulan ikan di dalam sebuah jala tidaklah sulit Menipu yang sudah tertipu Dan setiap anggota nelayan berebut mengambil Jatah Ikan-ikan besar menjadi primadona Dengan congkak para nelayan mengabaikan ikan-ikan kecil yang berjatuhan Lalu ikan-ikan itu dikais oleh mereka yang tidak bisa melaut Lucunya, lebih banyak mereka yang mengais ikan-ikan kecil Mereka saling berebut hingga berdesakan Ada yang terjatuh, terinjak, diinjak Maklumlah, kapan lagi bisa mendapatkan ikan dengan cara seperti itu, Kemampuan tak punya, peralatan apalagi, Namun masih punya alat untuk memperalat Saat mereka berebut ikan-ikan kecil beberapa nelayan ada yang terusik, Beberapa nelayan lagi memanfaatkan situasi itu untuk mengusik nelayan yang lain, Tentu agar jatahnya tak terusik, Diantara mereka tampak beberapa orang berdiri memperhatikan Ada yang hanya melihat, ada yang berusaha me...