Ramadhan dan (sisi lain) Persahabatan
"Berpuasa menahan haus dan lapar itu hanya 30 hari, tapi puasa menahan amarah, tidak melakukan hal buruk baik lisan maupun perbuatan terhadap makhluk lain itu kita lakukan sepanjang hidup."
Ramadhan menjadi momen dimana kita belajar untuk dapat mengendalikan hawa nafsu, lahir atau batin. Tidak hanya menahan haus dan lapar, kita juga dituntut untuk menahan lisan dan perbuatan dari hal-hal yang kurang baik, kurang sopan, kurang etis.
Namun pada kenyataannya, menahan lisan dan perbuatan dari kalimat-kalimat yang menurut sebagian besar orang 'tidak santun' nampaknya tidak berlaku bagi sekelompok orang yang berkumpul dalam lingkup yang banyak orang sebut PERSAHABATAN.
Tidak bisa kita pungkiri, nama-nama penghuni kebun binatang, tangan dan kelakuan jahil kerap kali sulit terlepas dari keseharian mereka, bercanda, tertawa, saling menghina satu sama lain hingga taraf 'membully' bukan lagi menjadi hal aneh bagi mereka.
Memang hal tersebut bukanlah hal yang dinilai 'baik' bagi adat dan budaya kita, namun jika dipahami lebih dalam, banyak hal-hal baik yang terbungkus dalam 'kemasan lusuh' tersebut, dan jika kita kaitkan lebih dalam, mungkin itulah salah satu tujuan mengapa kita diharuskan untuk ber'husnudzhon (berprasangka baik).
1. Mental yang kuat
Mengapa tidak? Sebagian orang mungkin banyak yang mengeluh dengan keadaan hidupnya, malu dengan apa yang tidak dimiliki, hingga bunuh diri padahal gak ada yang ngapa-ngapain dia. Tapi bagi mereka, hinaan bukan lagi terdengar sebagai hinaan, kata-kata yang nyata meskipun menyakitkan kerap kali dijadikan 'bahan' untuk mereka bergurau, namun perlahan membuyarkan anggapan masing-masing dari mereka bahwa semua itu bukan lah hal yang pantas untuk dijadikan beban, melainkan untuk disyukuri dan dinikmati, karena itulah kehidupan.
2. Hati yang lapang
Dalam hal menghina atau biasa disebut 'nge'cengin', mereka tidak lagi menempatkan hal tersebut dalam level sewajarnya (menghina) melainkan menaikkan essensinya ketingkat yang lebih tinggi, yaitu 'membahagiakan'. Orang yang mampu menelan pahit untuk kebahagiaan orang lain, sudah tidak diragukan lagi keluasan hatinya. Dan bagi mereka, hal tersebut selalu berjalan random, hingga setiap orang teruji keluasan hatinya.
3. Lebih peka
Karena tingkat pemahaman mereka satu dengan yang lainnya sudah sering terlatih, maka mereka otomatis akan lebih peka terhadap kondisi satu sama lainnya.
4. Ikatan yang kuat
Sudah pasti, banyak bukti yang bisa kita lihat betapa kuatnya ikatan antar sahabat. (Apalagi di anime..hee)
Dan banyak lagi jika dirumuskan seperti, Toleransi, Tidak mudah terprovokasi, Tidak mudah marah (emosi), Lebih perduli, dan lain sebagainya. Karena secara garis besar "mereka menjalani keseharian mereka diatas level kebiasaan manusia pada umumnya".
5. Orang-orang pilihan (tidak biasa)
Yap.. terbukti karena mereka yang mampu hidup dalam lingkup persahabatan dapat terhitung jari, biasanya hanya satuan, jika sampai belasan, sudah bisa dipastikan ada sejarah besar dan konsistensi maksimal dalam komunikasi dan silaturahmi diantara mereka.
Bukan mengacuhkan, namun lebih terlihat natural dan apa adanya, justru bagi mereka kalimat-kalimat 'tak biasa' tersebut mereka artikan sebagai rasa cinta dan kedekatan yang kuat dalam persahabatan. Ya begitulah mereka, karena mereka tidak akan melakukan hal yang sama terhadap orang lain yang tidak 'cukup kuat' dengan 'keharmonisan' cara mereka bersahabat.
Dan satu hal yang mereka sama-sama yakini, "Nanti juga lebaran maaf-maafan... :D "
"Terimakasih sudah membaca.. :)
Comments
Post a Comment