RESAH

Bergelas gelas kopi kami habiskan waktu itu, berbicara tentang "keresahan", setiap orang pasti memilikinya. Apalagi di zaman yang serba melampaui batas sekarang ini.

Kemudahan dalam hampir setiap bidang justru membuat manusia semakin menjadi pemalas, ditambah lagi budaya dan ideologi luar yang merusak justru semakin di gandrungi. Setiap orang semakin menyadari dirinya memiliki Hak, sambil diiringi kebiasaan melupakan hak orang lain, juga tanggung jawabnya terhadap makhluk lain.

Entah karena segala yang baru itu memang berkonotasi negatif, dibuat untuk hal negatif, dan memang untuk me'negatif'kan manusia disini, atau memang kami yang belum siap dengan segala sesuatu yang baru di era globalisasi ini.

Goreng pisang yang masih hangat menambah keakraban pembicaraan kami, bahasan yang tak teratur dari mulai ekonomi, politik, sosial budaya, olahraga, agama, apapun yang terlintas di otak kami berdua kami bicarakan, yang semua itu terucap oleh sebab "keresahan" tadi.

Juga tentang isu-isu yang hangat (sengaja dihangatkan) belakangan ini, terlalu mudah terombang ambingnya emosi masyarakat, menunjukkan dengan gamblang kualitas mentalnya.

Jika diingat kebelakang ya maklum saja, wajib belajar 9 tahun, itupun masih banyak yang tidak terlaksana, juga yang memilih tidak melaksanakannya. Jadi wajar saja jika seperti itu kualitas mentalnya.

Namun yang menjadi pertanyaan, seharusnya, yang terjadi sekarang ini adalah mental seorang dengan usia 9 tahun (sekolah menengah pertama) dan ketika sikap mudah terombang ambingnya emosi ini dilakukan oleh orang-orang dewasa, berpendidikan, bahkan pejabat atau wakil rakyat, berarti Negara kita memiliki masalah serius di bidang kualitas Pendidikan juga Kehidupan Sosialnya.

Lalu karena "kehawatiran", maka timbul pertanyaan, apakah bisa kita menyadarkan mereka? Bagaimana?  Melalui apa/cara apa?

Kami berdua terus mendiskusikannya,
Dari mulai tidak memilikinya sosok figur yang baik yang masih hidup yang berada di lingkungan masing-masing, dari semakin berambisinya setiap manusia terhadap kekuasaan dan materi, dari kurangnya pendidikan dan teladan akhlak,  dari sikap ketidak perdulian/acuh, antipati, merasa butuh/mencari pengakuan, dan lain sebagainya.

Kami terus bertanya tentang kemungkinan-kemungkinan satu sama lain, dan ternyata semua memiliki batasan, "resah" ini semakin menguliti kami, terutama hati ku, bahkan, untuk sekedar berteori saja kami minim kemingkinan melakukan perubahan.

Hingga akhirnya kami mencapai titik kesimpulan yang cukup menenangkan bagi kami, yaitu, 

Pertama, kami harus menyadari dan menerima bahwa semua ini takdir yang harus dijalani, seperti apapun kenyataannya.

Dan yang kedua, sebagai usaha merubah nasib, ternyata berharap seseorang atau orang lain berubah hanyalah sebuah harapan, namun bukan jawaban/solusi dari "keresahan".

"Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu berusaha merubah nasibnya sendiri"

Hingga kami menarik kesimpulan, untuk menjawab beberapa "keresahan" pada hati kami bahwa yang perlu kami lakukan mulai hari ini adalah,

"Menjalani hidup,  sambil menularkan kebaikan dengan berbuat baik, menularkan kebenaran dengan berbuat benar, menularkan empati dan toleransi dengan melakukan hal tersebut, toleransi juga simpati."

Hingga tak terasa waktu menunjukkan lewat tengah malam, padahal kami berbincang sejak sore, sambil diselingi sholat berjamaah, gorengan, dan terutama Kopi Hitam.

Comments

Popular posts from this blog

Antara "MY TRIP MY ADVENTURE" dan "MY SLEEP MY ADVENTURE". bag.2

Rahasia Dibalik Fungsi Pintu

Antara "MY TRIP MY ADVENTURE" dan "MY SLEEP MY ADVENTURE". bag.1