PENCEMBURU,
Kau paksa aku untuk bertahan,
Saat pesona mu tersebar ke sekitar,
Aku hanya bisa mengernyitkan dahi,
Tak tahu harus berbuat apa,
Kau pandang ramah setiap jiwa,
Jangan! Kumohon jangan,
Mataku tak kuat menahannya,
Semakin lelah hatiku menggerutu,
Mengapa tak kau tampar saja wajahku?
Aku rela,
Daripada harus berbagi senyummu dengan mereka,
Atau bertingkah konyol agar terus dapatkan perhatian mu?
Jika kau mau kulakukan,
Semua tak apa,
Aku bisa,
Tatap mataku,
Bacalah setiap bait-bait syair yang tertulis disana,
Yang tak mampu terbaca oleh lidahku yang amatir ini,
Yang mencoba mengungkapkan indahnya ciptaan Tuhan yang tengah ku pandang,
Yang tak rela walau sedikitpun untuk membaginya,
Biarlah aku menjadi orang yang kikir karenanya,
Karena kau pantas,
Matamu, senyummu, pipimu yang merona,
Bak panorama senja di samudra yang mega,
Yang terselip diantara pergantian siang dan malam,
Tak rela aku kehilangan,
Bahkan sekedar berbagi dengan camar yang terbang disekitarpun aku tak rela,
Apalagi jika kau uji aku dengan menggoda lainnya,
Tuhan..
Matilah aku yang dibuat tak berdaya,
Comments
Post a Comment