AYAH
"Masih menggantung buliran keringat di pelipis mata mu,
Aku yang masih polos hanya menatap mu dengan tatapan kosong,
Saat kau sadari apa yang ku lakukan
Senyum khas mu langsung menyambutku,
Buyarkan pandangan ku
Dan menggantinya dengan goresan senyum di pipi ku,
Sedikit sekali kata,
Tak banyak bicara,
Lalu kau berlalu.
Setiap hari ku lihat kau hanya bekerja dan bekerja,
Tanpa kenal lelah,
Tanpa keluh,
Tak pernah menyerah,
Hingga ku sadari pada suatu malam saat mataku tak sengaja terbuka,
Ku rasakan usapan tanganmu mengelus ku,
Sengaja aku tak bangun,
Tangan mu tak sehalus Ibu,
Belaian mu pun tak selembutnya,
Namun ada kehangatan yang berbeda ku rasa,
Sayup-sayup terdengar suaramu yang lirih,
Terdengar seperti untaian doa dan harap,
Harap mu untukku,
Aku tak ingin melihatnya, aku hanya ingin merasakannya,
Hingga akhirnya akupun kembali terlelap,
Dan fajar singsingkan sinarnya,
Dan hari pun berjalan seperti biasa,
Kau tetap tanpa banyak kata,
Tak banyak bicara,
Namun aku tahu satu hal
Bahwa kasihmu sama besar seperti Ibu,
Namun dengan cara yang berbeda,
Ayah,
Kau mengajarkanku arti sebuah pengabdian,
Kau sembunyikan lembut hatimu dalam diam,
Kau tahan setiap Ego dan Lirih yang bergolak di dada,
Dan melepasnya saat tak ada satu orangpun yang tahu,
Dalam gelap,
Dalam sunyi,
Dalam kesendirian dikala malam,
Ya, hanya kau dan Tuhan yang tahu,
Tak tahu berapa banyak kau teteskan airmata disela kesunyian malam,
Saat hatimu merasa buntu akan bagaimana esok hari,
Bagaimana aku dapat menikmati sesuap nasi,
Atau bagaimana aku bisa hidup dimasadepan,
Saat mungkin tanganmu tak mampu lagi menyuapi ku,
Atau kau takut kelak kau akan menjadi beban,
Ku mohon jangan katakan hal itu,
Sungguh akulah yang selalu menyusahkan mu,
Ayah,
Kau laksana Mentari,
Menyinari tanpa pernah lelah,
Menyelipkan hangat dalam gagah mu,
Namun tetap tenang dalam diam,
Terimakasih Ayah,
Kasihmu tak boleh sia-sia,
Itu janji ku."
*spesial request, semoga bermanfaat Nay,

Comments
Post a Comment