KERESAHAN DIBALIK DRAMA PILGUB DKI #1
Assalammualaikum wr. wb.
" Ada yang mempelajari Islam agar lebih mengenal Islam, Ada yang mempelajari Islam hanya untuk sekedar tahu, Ada yang mempelajari Islam justru untuk menghancurkan Islam.
Namun dari semua alasan itu, hasilnya tetap Allah SWT yang menentukan, bisa saja seluruh hasilnya adalah sebuah Hidayah. Wallahualam. "
Pilgub DKI, ya.. Bukan sekarang atau besok, tapi masih cukup lama, karena jatuh di tahun 2017. Namun panasnya persaingan sudah terasa bahkan dari beberapa bulan yang lalu.
Kian hari persaingan yang semakin memanas ini mulai memunculkan 'trik-trik' nya dalam berpolitik, dari Pencitraan, Saling Menjatuhkan, hingga 'tipu-tipu' Media yang berisi fitnah atau pemutarbalikan Fakta.
Ya, dalam berpolitik itu semua bukan lagi rahasia yang hanya sebagian orang saja yang tahu, namun telah menjadi rahasia umum. Dan bodohnya, Masyarakat terima-terima saja akan hal itu.
Dan bagi sebagian besar masyarakat yang malas, Isu-Isu yang beredar di media-media sering kali ditelan mentah-mentah tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu.
Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya Muslim, begitupun di Ibukotanya. Namun seperti kita ketahui, saat ini Jakarta dipimpin oleh seorang pemimpin non muslim, ya, Bpk. Basuki Tjahaja Purnama atau biasa dikenal sebagai Bpk. Ahok.
Masyarakat mengenal sosok beliau sebagai pribadi yang 'galak', tegas, jujur, dan tidak korupsi. Ya, memang tidak ada yang salah dari semua itu, seperti yang pernah saya dengar di televisi, bahkan beliau menuturkan ciri-ciri Pemimpin Ideal berdasarkan Syariat Islam, Sidiq, Amanah, Tabligh, Fathonah, begitu kurang lebih ucapnya, meskipun beliau bukanlah seorang Muslim.
Mengenai kekurangan beliau yang biasa masyarakat sebut 'galak', mari kita doakan semoga keraguan di hatinya terjawab, dan betul-betul mendalami Islam yang Rahmatan Lil Alamin, hingga beliau bersyahadat dengan setulus hati atas dasar kebenaran, dengan begitu, Insyaallah mudah-mudahan kekurangan beliau ('galak') itu perlahan akan hilang hingga menjadi pribadi yang tegas, jujur, tidak korupsi dan lemah lembut. Amin
Di Pilgub 2017 nanti Bpk. Ahok juga akan mencalonkan dirinya. Disertai oleh beberapa kandidat lainnya. Uniknya, seorang Ahok mencalonkan diri melalui Jalur Independen, betapa Indahnya Demokrasi di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.
Namun dibalik semua itu, telah beredar beberapa isu, hingga menimbulkan sebuah persepsi yang cukup menghawatirkan seperti, " lebih baik pemimpin non muslim yang tegas, jujur dan tidak korupsi, ketimbang pemimpin muslim yang korupsi dan tidak jujur serta tidak tegas ".
Mengapa itu menjadi menghawatirkan? Pemimpin yang jujur, tegas dan tidak korupsi, siapapun itu, baik dari kalangan muslim atau non muslim pasti akan sangat baik bagi rakyat.
Namun bukan berarti tidak ada lagi tokoh muslim yang jujur, tegas dan tidak korupsi di negara yang mayoritasnya Islam ini. Kita tidak boleh membiasakan men'judge sesuatu hal yang beraifat sebagian, dengan statement yang menyeluruh.
Saya ingat ketika Pilpres kemarin dimana hanya menjadi dua kubu. Tiap-tiap kubu saling mengagungkan calonnya seolah tidak ada lagi manusia yang paling benar selain masing-masing calonnya. Dan ketika menang dan kurang sesuai harapan, pendukung tadi justru ikut mencemooh pemerintahannya.
" KALAU INGIN BANGSA DAN NEGARA YANG MEMILIKI HARGA DIRI, MAKA MULAILAH HARGA DIRI ITU DARI DIRI KITA SENDIRI."
Masih mau disuap atau menyuap, masih mau menerima uang dari serangan fajar, masih suka mencaci dan bersikap keras terhadap pendapat sendiri, tapi ingin Negara yang Damai dan Sejahtera? ( idup aja di kutub sama anjing laut dan pinguin sono.)
Jangan mau dibutakan kawan. Khususnya kaum Muslim, saudara-saudaraku. Begitupun dengan adanya Fenomena Bpk. Ahok yang jujur tapi bukan Muslim, ini hanya contoh kecil, atau malah saya menyebutnya sebagai 'uji coba'. Dan baru hanya yang seperti ini saja masyarakat muslim Indonesia sudah kocar- kacir, hilang akal bahkan Aqidah, hingga berpendapat bahwa seolah tak adalagi muslim yang baik di negara yang mayoritas muslim ini.
Kita harus sadar diri, kita yang BODOH. Seluruh pemimpin yang kini duduk di kursi adalah pilihan kita. Baik dan benar mereka diawali dari suara kita. Kenapa saya bilang kita yang BODOH? Karena hingga kini kita belum mampu melihat dengan jelas siapa yang benar-benar baik, dan siapa yang pura-pura baik.
Dari orde baru hingga kini 2016, kita masih sangat sering keliru dalam hal-hal fatal, ya kita sebagai masyarakat umumnya, dan kita sebagai Muslim khususnya.
Makannya orang tua dahulu sangat mengutamakan akhlak dan sopan santun, karena dari situ kita akan lebih peka dengan hal-hal baik. Berbeda dengan sekarang, yg diutamakan bagaimana supaya kelak bisa mencari uang yang banyak, makannya hatinya jadi tumpul. Otaknya cuma duit duit dan duit.
Siapapun pemimpin di Ibukota kelak, semoga dialah yang terbaik yang bisa memperbaiki kondisi masyarakat khususnya di Ibukota. Prihal siapa dan dari golongan mana yang memimpin, biarlah itu menjadi sebuah kekayaan dari luasnya demokrasi PANCA SILA. Toh apapun hasilnya, tetap rakyat yang menentukan.
Waspada terhadap kecurangan dan isu-isu syara. Telaah setiap janji dan gelagat bukan hanya untuk hari ini atau esok, tapi hingga beberapa generasi setelah kita. Jangan sampai apa yang kita pilih hari ini, menjadi penyebab kehancuran generasi kita selanjutnya.
Jayalah Indonesiaku, NKRI Harga Mati!
Wassalammualaikum wr. wb.
Comments
Post a Comment