mendung tak selalu kelabu #hdsb (4)
Dia masih saja acuh terhadap apa yang baru saja aku katakan,
namun walau begitu, aku masih menganggap sepertinya dia mampu membaca apa yang aku pikirkan.
Sore itu angin bertiup sangat lembut,
dengan cuaca yang sedikit mendung yang bahkan saat itu mentari tak dibiarkan mengintip walau sesaat.
Burung-burung terbang rendah berkelompok,
aku tak tahu burung apa itu,
namun yang ku tahu di sudut lain terlihat dua burung yang lebih besar terbang berputar entah memperhatikan apa, mungkin calon mangsanya. Karena tidak mungkin mereka berputar-putar karena kurang kerjaan.
"Terus apa yang seharusnya gue lakuin?"
"Hah?"
sergahnya,
"Mungkin hati gue resah, mungkin gue suka memikirkan banyak hal, baik hal yang penting atau hal-hal yang bahkan gak berguna. Tapi bagaimana kalau itu memang sifat gue, karakter gue?"
tanya ku memperjelas.
"Jangan dibiasain suka mempertahankan sesuatu yang kurang baik ah.."
jawabnya santai.
Kembali dia menaikkan sebelah kakinya diatas kursi sambil menyandarkan tubuhnya yang kurus.
"Iya si bener, tapi kalau udah karakter kan susah,"
ucap ku lemas.
Angin bertiup lebih kencang, sepertinya alam tahu aku membutuhkan udara segar untuk berpikir. Ku ambil cangkir kopi yang kini berada tepat di depannya, bersyukur isinya belum habis diminum.
Suasana menjadi sunyi untuk beberapa saat.
Aku terus menyesap kopi itu hingga hanya menyisakan ampasnya.
Dan tiba-tiba dia berkata,
"Coba lo liat itu langit,"
sambil menunjuk ke arah gumpalan awan di udara.
Aku menoleh,
aku sempat berpikir tentang apa yang bisa ku lihat di langit saat mendung, paling hanya awan -awan yang berwarna agak kehitaman.
Namun aku salah, tidak semua awan berwarna agak kehitaman, di beberapa sudut ada yang masih berwarna putih, ada yang lebih hitam, ada yang tebal, ada juga yang tipis, bahkan dibalik itu, mulai tampak pijaran matahari yang memaksa ikut tampil hingga menggoreskan warna jingga yang indah.
Bahkan dari beberapa sudut aku dapat bermain dengan imajinasi ku,
aku dapat melihat awan-awan itu seperti berbentuk kubah, hewan,
atau banyak hal,
namun yang pasti untukku, semua itu tampak seperti lukisan yang indah.
"Apa yang lo pikir?"
"Indah,"
jawabku yang masih menatap langit dan keindahannya itu.
"Nah gitu, lo cukup nikmatin keindahan itu. Dan habiskan energi lo untuk memikirkan betapa Maha Indahnya Tuhan yang menciptakan karya seindah ini."
"Lo gak usah mikirin gimana proses terjadinya itu awan, bagaimana warna awannya gak merata, kenapa ada yang tipis atau ada yang bertumpuk-tumpuk, kenapa masih ada sinar matahari yang terlihat padahal cuacanya mendung, gak usah.. gak usah serumit itu,"
"Toh besok juga formasi awan dan efek cahayanya udah beda lagi, meskipun sama-sama menghasilkan keindahan yang menakjubkan mata."
"Jadi pahamin Inti'nya?"
tanyaku,
"Dan lo bisa gunain kebiasaan berpikir lo dengan maksimal,"
tambahnya,
"Selanjutnya lo bisa mulai belajar memahami situasi dan kondisi,"
#harus datang sebelum berlalu

Comments
Post a Comment