tertipu #hdsb (5)





"Duh.. apaan lagi ni anak," ucap ku dalam hati, sambil menggaruk-garukkan kepala sebagai isyaratnya.
Tidak biasanya dia seperti ini, banyak sekali kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya, jikalau saja kata-kata itu mudah untuk aku pahami, mungkin akan terasa agak lebih baik.

"Lo cuma punya kopi satu aja?" tanya nya.

"Oh iya, aduh.. maaf gue lupa, sebentar ya,"

Akupun beranjak dari kursi reot itu dan buru-buru pergi ke dapur karena tidak enak hati sudah membiarkan tamu ku tidak dijamu. Setelah masuk ke dapur terlihat kopi masih berada di tempatnya dalam toples kecil yang biasa untuk menaruh bumbu-bumbu dapur.

Disekitarnya terdapat beberapa toples yang isinya beragam, ada garam, gula, penyedap rasa, dan lada bubuk, juga dengan ukuran dan bentuk toples yang sama.

Segera aku masukkan beberapa sendok kopi bubuk kedalam gelas, lalu membuka toples di sebelahnya bermaksud untuk mengambil gula, beruntung aku, setelah sendok itu tepat berada diatas gelas kopi, aku sadar yang ada di sendok tadi bukan gula, melainkan penyedap rasa. Sebelumnya aku mengira bahwa isinya adalah gula pasir halus.

Aku mengelus dada, "Syukur.." ucap ku.
Ada rasa sedikit dongkol pada saat itu, kenapa tulisan keterangan yang pernah aku tempelkan di dinding toplesnya tidak ada, hampir saja aku ke-gurih-an meminum kopi tadi.

Setelah mengambil toples yang benar, ku masukkan gula, lalu ku tuang air panas kedalam gelas, hmh.. aku menelan ludah, aroma kopi hitam kental yang amat menggoda, seperti menari-nari merayu melalui hidung dan tenggorokan ku.
Sepuluh kali adukan cepat rasanya cukup untuk melarutkan kopi dan gulanya, dan akupun segera menghampiri sahabatku tadi.

"Ini Tuan,"
ucap ku sambil menaruh dua gelas kopi hitam panas diatas meja.
Dengan cangkir yang tidak terlalu besar diatas piring kecil bermotifkan bunga, rasanya kopi itu semakin terasa spesial saja.

Dia hanya tersenyum simpul.

"Hampir aja kita kegurihan,'
"Maksudnya?"
Aku menjelaskan,
"Hampir aja gue masukin penyedap rasa kedalam gelas kopinya, padahal sebelumnya udah gue tempel keterangan di masing-masing toplesnya, ada gula, garam, mecin, dan lainnya, biar gampang. Eh gatau dikemanain hilang semuanya, akhirnya gini kan, kalo lagi buru-buru jadi repot."

"Lo udah tanya siapa yang lepasin keterangannya?"
"Paling juga Emak gue," jawabku santai.

"Kok lo bisa se-yakin itu?" tanyanya heran.
Lalu dia menggeser kursinya agak lurus kearah ku, posisi duduk yang tadinya bersandar kini agak condong kedepan untuk mendengarkan apa penjelasan yang menjadi alasanku.

"Ya emak gue kan kurang begitu bisa baca," jawabku santai.
Ibu ku memang tidak begitu pandai membaca, pernah dia duduk di kelas satu sekolah dasar, hingga akhirnya harus berhenti demi menghidupi dan mengasuh adik-adiknya. Keadaan masih sangat kurang baik saat itu.

"Ohhh.. gitu," sambil kembali menyandarkan bahunya."Jadi lo mensalahkan emak lo?"

"Emm.. ya gak gitu juga," jawabku ragu.

"Hmm.. maaf sebelumnya, tapi ini sih pendapat gue,"
Aku mendengarkan,
terlihat tangannya me'melintir jenggot tipis di dagu nya yang hanya beberapa helai saja.

 "Emak lo kurang bisa baca bener?"
"Iya,"
"Terus buat apa lo tulisin keterangan di toplesnya?"
Aku diam.
"Pernah gak lo terpikir, seandainya memang emak lo yang lepasin keterangan di toplesnya, itu semata-mata dia takut masukin bahan yang gak sesuai dengan keterangannya?"

"Dan seandainya itu kejadian, penyedap rasa masuk ke toples gula, apa manusia 'pintar' seperti lo akan diem aja? seenggaknya untuk nggak cemberut?"

Aku menunduk, aku mulai memikirkan ekspresi ku terhadap kejadian barusan yang dengan mudah mensalahkan ibu ku tanpa berpikir panjang.

"Dan gue rasa, seharusnya dengan tidak adanya keterangan di toplesnya, bukannya dan seharusnya itu menjadikan orang untuk lebih berhati-hati?"
"Dan satu hal lagi, dari kejadian barusan gue tau seberapa seringnya lo bantu emak lo di dapur."

"Astaga..'
Kedua tanganku menutup dan mengusap wajahku, kali ini lebih keras, aku tertampar lebih keras.

"Tuhan, ada apa dengan ku? sebegitu tidak dewasanya kah aku?" ucap ku dalam hati. Aku masih tertunduk. Kalimatnya memang langsung menusuk hati dan kesadaran ku, namun semua itu adalah kebenaran bagiku, bukan marah, melainkan terimakasih yang seolah sangat ingin aku ucapkan meskipun masih tertahan.

Aku malu.

Sebuah tepukan menyentuh bahuku, membuat aku melepaskan kedua telapak tangan yang sedari tadi menutupi wajah ini.

Dia tersenyum,
"Jangan malu, ini proses pembelajaran, dan lo cuma tertipu,"

"Lo tertipu oleh kejadian yang ada di hadapan lo, hingga lo lupa akan sebab akibat di belakangnya, siapa dan dengan karakter dan keadaan apa saja orang-orang yang terlibat dalam kejadian itu. Dan jelas, pilihan lo akan menentukan hasil untuk masa depan, jadi jangan tertipu lagi, biar lo gak mudah salah paham dan diadu domba, hingga keputusan lo nanti lebih TEPAT atau setidaknya keputusan lo nanti gak merugikan diri lo juga orang lain."

"Ini baru urusan gula dan mecin, belom lagi urusan Rumah Tangga, Agama, Bangsa dan Negara kawan,"





#harus datang sebelum berlalu



Comments

Popular posts from this blog

Antara "MY TRIP MY ADVENTURE" dan "MY SLEEP MY ADVENTURE". bag.2

Rahasia Dibalik Fungsi Pintu

Antara "MY TRIP MY ADVENTURE" dan "MY SLEEP MY ADVENTURE". bag.1