pemecah keheningan #hdsb (2)
"Prak" seseorang memukul meja dihadapku,
menghentikan jari yang sedari tadi memutar-mutarkan cangkir, hingga melepasnya dan hampir membuatnya jatuh terguling.
Beruntung respon ku cukup cepat,
meski terlihat sebagian airnya memercik hingga ke beberapa sudut meja, namun tidak sampai menumpahkan seluruh isinya.
Badannya membungkuk, dengan tatapan mata yang tajam dia menatapku, kejadian itu berlalu beberapa detik, hingga akhirnya senyuman lebar dan pekikan tawa terlontar dari mulutnya.
Aku menghela nafas panjang, dan menundukkan kepala sambil sesekali menggelengkannya, sebuah senyum kecil tersimpul di wajahku, dia adalah sahabatku.
"Gak ada yang perlu untuk dihawatirkan secara berlebihan di dunia ini, selama lo percaya dengan takdir dan cara kerja Tuhan,"
Sontak kepalaku mendongak dan langsung menatap wajahnya, dahi ku mengkerut.
Aku masih tak percaya kata-kata itu terucap dari mulutnya.
Dia melangkah maju dan duduk tepat dihadapku,
dengan senyum yang mengisyaratkan seolah dia mengerti apa yang tengah aku pikirkan.
"Ya kan?" tanya nya meyakinkan,
"Hmh.. bener," jawabku masih dengan rasa heran.
Aku tersadar bahwa apa yang sedaritadi tengah merisaukan hatiku bukanlah sesuatu yang harus menjadi sebuah beban,
kegundahan yang aku alami, kecemasan yang menjadi berlebihan justru akan menyempitkan langkah ku di masa depan.
Setidaknya aku mulai sedikit mengerti mengapa manusia dianjurkan untuk husnudzon atau berprasangka baik dalam setiap keadaan, mungkin itu juga sebagai bukti besar kecilnya sebuah keimanan.
#harus datang sebelum berlalu

Comments
Post a Comment