Kenapa Banyak Muda Mudi Yang Belum Menikah? Mengapa Jones Semakin Banyak?
Assalammualaikum..
Apa kabar pemirsah.. Semoga sehat selalu, dan selalu dalam lindungan Nya. Amin.
Sadar ga kalo belakangan ini rumah kita tuh mulai didatengin sama undangan pernikahan beberapa kawan kita, khususnya buat para kawan-kawan yang lahir di tahun 91-93'an (untuk di tahun 2016 ini)? Buat yang masih jomblo, Ngenes ga sih? (hehe..becanda)
Kesiapan mental, usia, dan kematangan niat yang cukup memang mengharuskan seseorang untuk segera meninggalkan masa lajangnya menuju ke jenjang pernikahan.
Beberapa faktor mungkin jadi penghambat, seperti masalah pekerjaan, belum siapnya mental, dan yang pasti pasangannya itu sendiri.
Nah, bagi kawan-kawan (laki-laki khususnya), salah satu penghambat yang menjadi masalah klasik untuk menikah adalah pekerjaan. Walau kita sama-sama tahu bahwa justru dengan menikah maka pintu rejeki kita malah semakin terbuka dari segala arah.
Namun keterbatasan ilmu dan keyakinan yang kita miliki menjadikan masalah 'pekerjaan' ini menjadi begitu memusingkan. Dan tentunya, salah satu penyebab hal ini dapat terjadi adalah peran orang tua yang kurang memberikan edukasi akan hal ini, bagaimana dan dengan tindakan apa hal ini mestinya disikapi, tidak hanya untuk laki-laki, perempuan juga (menjadi pembelajaran juga bagi kita bakal orang tua).
Dan masalah 'ketidak pahaman' ini sudah meng'global hingga ke lingkup generasi. Jika hal ini tidak segera diperbaiki, bisa saja 10/20 tahun kedepan, laki-laki yang merasa dirinya kurang dalam hal finansial akan takut untuk meminang perempuan. Dan ini bisa saja akan berdampak besar bagi perempuan itu sendiri.
Menurut badan intelijen yang tidak ingin disebutkan namanya (wkwkwk), semakin lama jumblah perempuan semakin meningkat dibandingkan laki-laki. Jika setiap laki-laki menikahi satu istri saja, masih ada perempuan yang tidak menikah, jika poligami, eh jangan deh.. Ntar yang perempuan pada ngamuk.
Coba bayangkan jika banyak laki-laki yang tidak berani menikah karena hal ini? Berapa banyak jones jones dari kaum wanita? Tentu melebihi laki-laki bukan?
Yang fatalnya, apabila pernikahan dianggap sebagai pemenuh/pemuas kebutuhan batin (nafsu) semata, maka laki-laki yang hanya berpenghasilan rendah, yang otaknya konslet, yang takut meminang perempuan yang katanya semakin waktu semakin mahal, bisa saja akan memilih 'jajan' daripada pernikahan.
Lalu, bagaimana nasib perempuan?
Menjadi 'penjual'? Bisa saja, menjadi mengalami kelainan 'nafsu' (lesbi)? Mungkin,
Yang jarang diperhitungkan dalam hal pernikahan ini adalah usia, kita sama-sama tahu bahwa laki-laki hampir tak terbatas masa suburnya, berbeda dengan perempuan.
Jika hal ini (masalah finansial) semakin berpengaruh dalam hal pernikahan, maka berapa lama perempuan menunggu laki-laki hingga menjadi mapan lalu menikah? Sementara di negara kita, mencari pekerjaan semakin sulit (atau mungkin dipersulit), dengan sistem 'kontrak' kira-kira seorang pekerja bisa menjadi karyawan jika telah bekerja dengan sangat baik dalam kurun waktu 3 tahun atau diatasnya. Itupun jika memiliki kesempatan untuk bekerja selama 3 tahun, bisa saja dipecat duluan.
Coba pikirkan, rata-rata wanita siap menikah di usia 23 tahun, jika menunggu laki-laki biasa untuk mapan sebelum menikah, ini kira-kira perhitungan waktunya;
> Laki-laki mulai bekerja rata-rata usia 19/20 tahun,(dipotong nganggur setelah lulus SMA) agar lebih mudah kita ambil saja 20 tahun.
> Jika nasib baik, maka menjadi karyawan di usia 23 tahun, lalu menikah.
Tapi itu hampir bisa dibilang hoax, ini nyatanya,
> Berkomitmen/pacaran di usia 20 tahun (pria dan wanita).
> Laki-laki mulai bekerja di usia 20 tahun
> Karena masih mencari pengalaman maka hanya bekerja 2 tahun.
> Karena pekerjaan sulit, menganggur hingga beberapa bulan, atau bisa saja setahun. Kita ambil saja hanya 6 bulan.
> Laki-laki itu bekerja lagi, karena belum memiliki perencanaan matang untuk masadepan, dia bekerja dengan apa adanya. Hingga hanya mampu bertahan di masa kontrak pertama, 1 tahun.
> Usia mereka kini sudah lewat 23 tahun, tepatnya 23 thn 6 bulan. Dan mereka masih bertahan tetap akan menikah ketika mapan.
> Lalu menganggur lagi 6 bulan (seperti poin sebelumnya).
> Karena teguran sang kekasih, laki-laki ini semakin matang dan bersungguh-sungguh mencari pekerjaan lalu didapatnya pekerjaan itu.
> Dia bekerja giat, sangat giat, kontrak 1 tahun pertama aman, tahun ke 2 aman, ketika memasuki tahun ketiga tiba-tiba ada pengurangan, dengan alasan peremajaan (maklum, setiap tahun ribuan lulusan usia belia dan lebih produktif siap berlomba menjadi pekerja) belum lagi imbas dari Pasar Bebas. Dan akhirnya dia pun terkena imbasnya. Hanya bekerja 2,5 tahun.
> Usia mereka kini 26 tahun 6 bulan,
> Karena sang laki-laki tak jua mapan, maka si wanita memilih untuk meninggalkan laki-laki itu, di usia 26 tahun 6 bulan.
> Laki-laki yang kecewa tadi akhirnya memiliki 2 pilihan, menikah saat mapan (karena laki-laki masih subur bahkan di usia yang cukup matang) atau langsung menikah dengan mencari pengganti wanita tadi. Karena di usia 25/26 tahun ada yang mengatakan bahwa itu adalah usia kematangan (awal) bagi laki-laki, lalu pernikahan itu dijalani dengan penuh tanggung jawab belajar dari pengalaman sebelumnya.
> Dan sang perempuan, bisa meneruskan mencari laki-laki mapan yang belum menikah (walau sepertinya jarang, karena kebanyakan tujuan laki-laki ketika mapan pasti menikah, dan kemungkinan sudah memiliki pasangan), atau langsung menikah walau dengan laki-laki yang belum mapan (karena baru sadar) tapi kalau begitu, kenapa nggak sama pasangan awalnya aja yang udah bertahun-tahun bareng. Atau mencari laki-laki lain dan menunggu laki-laki itu hingga mapan lalu menikah seperti sebelumnya (keburu tua).
Dari teori ngaco diatas, solusinya sebenarnya sangat sederhana, yaitu sebaiknya menikah ketika telah cukup persyaratannya (baligh, dsb. Lebih lengkapnya nyok kita ngaji lagi, tanya Pak Ustad atau Kiai) sambil mempersiapkan mental lahir dan batin serta ilmu dalam membina rumah tangga.
Ada beberapa kriteria dalam memilih pasangan, kecantikan, harta, nasab, lalu agamanya. Namun jika memprioritaskan Agama, maka kita pasti akan lebih beruntung.
Mudah-mudahan kita dimudahkan dalam memenuhi sunnah Rasulullah Muhammad SAW. yaitu pernikahan. Amin.
Wassalammualaikum..
Comments
Post a Comment