Aku Sang Kurcaci Itu
Sedikit cerita sebelum terlelap,
Hari ini, kamis 18 februari 2016, entah sudah berapa tahun sejak pertamakali aku merasakan pikulan menyentuh bahuku, yang aku ingat saat itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar.
Ini bukan kisah menakjubkan dari seorang biasa yang menjadi luarbiasa, bukan, aku masih tetaplah manusia biasa dengan segala kekurangan yang aku miliki. Tidak kaya, cerdas, atau yang lainnya, masih seperti biasa.
Aku ingat saat pertama kali aku memikul, ayahku (biasa aku memanggilnya bapak) bukanlah seorang yang kaya raya, bahkan bisa dibilang selama ini dia tidak memiliki pekerjaan tetap. Dia biasa menafkahi kami dengan membeli buah atau sayur yang ditanam tetangga-tetangga kami untuk dijual kembali kepasar atau jasa mencangkul dikebun orang, beruntungnya tak jarang akulah yang paling diandalkannya untuk ikut membantu.
Saat itu yang aku ingat kami sedang membeli buah nangka (cempedak), entah karena alasan apa, tiba-tiba dia (bapak ku) menyuruhku untuk memikulnya, jaraknya tidak jauh, hanya dari luar rumah menuju kedalam, dan hanya beberapa buah.
Saat itu aku masih SD, dan dahulu selain memang masih SD, perawakanku memang lebih kecil dibanding anak-anak pada umumnya (haha aku selalu tersenyum ketika mengingatnya). Dia memintaku memikul nangka itu, aku ingat saat wajahku kebingungan bagaimana caraku melakukannya, dan dia hanya menertawakanku.
Bisa dibilang aku anak yang keras kepala, mendengar tawaan itu aku malah membara, merasa dianggap tak mampu. Nekat aku pikul nangka-nangka itu dengan sekuat tenaga, meskipun sempoyongan ke kiri dan ke kanan karena belum bisa menjaga keseimbangan, tapi aku berhasil, dan mereka terkejut, aku tersenyum puas meski dengan nafas yang terengah-engah.
Sejak saat itu aku menjadi sering mengikuti ayahku 'mencari dagangan' (sebutan kami), jika harus memikul aku ikut memikul, jika harus memanggul aku ikut memanggul, hanya satu yang aku menyerah, ketika diminta untuk naik pohon, sungguh aku menyerah, aku tidak begitu suka ketinggian. Pernah beberapa kali mencoba, aku bisa naik, namun tidak bisa turun, dan itu hanya akan merepotkan ayahku.
Seiring waktu berjalan, begitu yang kami lakukan, tak jarang bahuku memar, atau aku menyerah dan tak mau meskipun diajak, namun ketika melihat ayahku harus pergi sendiri setelah aku menolaknya, aku tak bisa, bahkan pernah sambil mengusap airmata (karena tak mau) aku tetap menemaninya.
Hingga suatu pagi saat ayahku harus pergi ke pasar, saat itu aku sudah SMP sekitar kelas 2 namun postur tubuhku masih kecil (pendek) bahkan beberapa temanku kala itu memanggilku dengan sebutan 'kurcaci'. Aku dibangunkan ayahku dan dimintanya untuk membantu, ku lihat sekitar jam setengah dua pagi, meskipun mengantuk namun aku tak bisa menolaknya.
Dan alangkah terkejutnya aku ketika melihat apa yang harus aku pikul berdua dengan ayahku, satu keranjang penuh buah rambutan yang sudah diikat yang tingginya sejengkal lagi rata hingga ke bahuku. Dan itu harus kami pikul berdua, karena hanya satu keranjang (tidak seimbang kalau sendiri), Kalau ada dua, sudah pasti akan dia pikul sendiri.
Ayahku bertanya, "Bisa Ngga?", sambil nyengir ga jelas aku jawab, "hee.. coba aja". Segera kami memikul keranjang itu. Saat memikul tak jarang kami berhenti, bahkan berkali-kali, pertama karena aku tidak kuat jadi harus sering istirahat, kedua karena tinggi kami tidak seimbang. Saat itu aku lihat keresahan di wajah ayahku, mungkin karena dia melihat aku harus memaksakan, namun kala itu hanya aku yang ada untuk membantunya.
"Kalo bukan abang lu lagi gaada dirumah mah, bapa ga nyuruh lu", itu ucapnya sambil memalingkan wajahnya dariku. Tubuhku seketika gemetar, "udah ayo angkat, tanggung" ucapku. Emosiku bergejolak tak terima dengan keadaan ini, sambil memikul tak terasa airmataku menetes sambil berkata dalam hati, "Tuhan, aku ingin tumbuh lebih tinggi lagi, tidak usah yang terlalu, cukup agar aku sejajar ketika memikul dengan bapakku, cukup itu saja,".
Waktu terus berjalan, tak terasa sekitar setahun telah berlalu. Saat itu sehabis mengerjakan ujian pra UN, tiba-tiba guruku kaget melihatku, aku sadar aku tidak begitu menarik hingga selalu diperhatikan, namun guruku yang tersadar dengan perubahanku berkata, "arip, kamu makan apa? ko tiba-tiba tinggi gini?". Aku kaget mendengarnya, aku tidak merasa ada perubahan ditubuhku, aku bukan orang yang suka memperhatikan penampilan atau perubahan di tubuhku.
Yang lebih membuatku heran, kenapa guru ku baru menyadari perubahan ku bahkan dia sampai tidak percaya ketika harus mendongak ke atas untuk melihat wajahku, dan bodohnya, akupun baru tersadar setelah dia bertanya seperti itu.
Sesampainya dirumah aku langsung menghampiri ibuku, dan iya, memang kini aku lebih tinggi darinya, lalu diam-diam aku mengukur ke ayahku, wahh.. hanya beberapa centi lagi kami sejajar. Aneh memang terdengarnya ketika aku bilang baru menyadari hal itu, tapi ya memang begitu adanya, mungkin karena aku terlalu masabodoh atau memang bodoh, haha.
Namun satu yang pasti, betapa bahagia hatiku ketika menyadarinya, yang kutahu, sebelumnya wajar saja jika aku lebih kuat ketika terasa lebih mudah saat memikul, karena itu bukan kali pertamaku, namun bukan karena lebih tinggi pikirku. Tubuhku tidak terlalu tinggi, standar saja hanya sekitar 160cm-an saja , yang aku sadar saat itu, dulu mereka yang memanggilku dengan sebutan kurcaci kini harus mendongak ketika menatapku. Terbayangkan betapa pendeknya aku dulu ketika ku bilang aku meninggi bahkan lebih dari setengah tinggiku dulu?
Namun, bukan masalah seberapa tinggi yang ku capai, tapi ketika Allah SWT mendengar do'a ku, tak tergambarkan syukur yang aku rasa, hingga aku merasa Dia dekat denganku, padahal aku bukanlah apa-apa. Bagi sebagian banyak orang ini hal yang wajar, karena saat itu aku masih dalam masa pertumbuhan, namun bagiku, itu sebuah tanda kasih Tuhan.
Hingga hari ini, saat tadi aku memikul keranjang bersamanya, aku selalu teringat akan kebaikan kasih dari Sang Maha kasih, yang telah mengabulkan do'a dari seorang hamba yang bukan apa-apa.
Comments
Post a Comment