Malam Jumat Malam SUNNAH bukan 'malam sunnah'
Malam jumat,
Ada apa dengan malam jumat?
Banyak yang mengatakan malam jumat adalah malamnya para pasangan yang sah untuk 'berhubungan' dengan alasan sebagai sunnah Rasul. Terlepas itu adalah sebuah kebenaran atau bukan, pada prakteknya justru ucapan itu seolah dijadikan sebagai lelucon, yang menjurus justru bukan kearah ibadah itu sendiri.
Bagi kita yang masih melakukannya, Sadarlah! Ibadah ya ibadah saja, membawa suatu ibadah terlebih lagi Rasul sebagai bahan lelucon adalah kesalahan besar. Kita harus merombak kembali pemikiran kita.
Faktanya, hari jumat adalah hari yang paling baik dari hari-hari lainnya, dimulai dari malamnya (malam jumat) hingga akhir harinya. Dan setiap kebaikan yang dilakukan pada waktu itu pasti akan mendapatkan nilai lebih. Terlebih lagi jika melakukan amalan sunnah Rasulullah SAW.
Lalu mengapa kebanyakan orang sering mengaitkan malam jumat dengan waktu untuk 'berhubungan', bahkan tak jarang menyebutnya dengan 'malam sunnah' dengan maksud yang sama?
Itu terbukti bahwa sunnah itu dianggap sepele, dan terbukti bahwa mayoritas orang yang masih mengistilahkan malam jumat dengan sebutan itu, fikirannya hanya senang dengan sesuatu yang mengarah kekegiatan 'berhubungan' saja.
Padahal yang sama-sama kita tahu, malam jumat adalah waktu yang sangat dianjurkan untuk berdoa, terutama mendoakan keluarga yang telah terlebih dahulu berpulang.
Pernahkah terfikir oleh kita, bahwa tanpa kita lihat setiap malam jumat sanak famili kita yang telah meninggal hadir dan berdiri didepan pintu rumah kita. Mereka berdiri seraya memanggil-manggil kita dengan nada yang memelas, "Wahai istriku (suamiku), anakku, keluargaku, dan kerabatku!".
Mereka berdiri dengan mengharap kasih sayang kita dalam bentuk Doa. Siapa diantara kita yang yakin sudah membahagiakan keluarga kita yang telah meninggal sewaktu di dunia? Anggaplah ini kesempatan kedua. Apakah kita tega membiarkan mereka kembali dengan tangan hampa dan nestapa?
Jika akal belum mampu memahaminya, maka gunakanlah nurani kita. Hingga kelak Tuhan menurunkan pemahaman kepada kita.
Semoga kita dapat istiqomah menjalaninya, inshaallah..

Comments
Post a Comment