Marah Tapi Tak Benci
Sedikit cerita pagi,
Terdengar melengking suaranya pagi ini, hal yang biasa dia lakukan ketika sebelumnya ku bilang harus bangun dipagi hari. Aku yang masih dalam selimut lantas melihat jam yang menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
"Ga jadi berangkat?" tanyanya, karena suatu alasan aku harus mengurungkan niatku pagi itu. Terlihat raut wajahnya yang mulai sedikit sebal, sambil berjalan membelakangiku dia berkata lagi, "Tadi udah sempet masak tuh buat sarapan, kirain jadi.". Aku tertunduk, lalu bergegas mandi.
Setelah selesai mandi masih ku lihat raut wajahnya yang asam, aku tahu dia, tampaknya ada yang lain yang juga mengusik ketentraman hatinya, seperti biasa masalah dua insan yang saling mencinta.
Diambilnya setumpuk cucian kotor untuk dibersihkan. Sambil mencuci, tak sedikit kata-kata yang membuatku pusing tak karuan, bahkan hanya untuk memintaku mengambilkan bak untuk pakaian yang telah dicuci harus menggunakan omelan.
Kadang aku lebih memilih untuk diam, namun tak jarang aku beradu argumen dengannya hanya sekedar untuk meluruskan. Kadang dalam kondisi hatinya yang kacau ucapan ku malah menyakiti hatinya.
Lalu kembali aku diminta untuk membetulkan jemuran yang ada di depan, maklum kondisinya agak kurang memungkinkan. Setelah selesai, langsung dia menjemur seluruh pakaian, aku hanya diam dan memperhatikan. Mengusik dia yang sedang gelisah hanya akan memasukkan ku seolah kekandang singa yang sedang marah.
Mencuci sudah, menjemurpun selesai, ku lihat waktu sekitar pukul setengah sembilan. Belum kering keringat yang menetes disekitar pelipis matanya, dia memanggilku, "Antarkan kopi ini ke bapa,". Aku menurut saja sambil menahan geli dalam hati, "Kemana amarahnya tadi pagi?" langsung bergegas mengantarkan kopi itu. Dan dia ke warung untuk membeli bumbu untuk masakan hari itu.
Ya, pagi itu dia hanya membuatkan sarapan untukku, aku lihat ke tempat makan, bukan meja makan, hanya meja lusuh buatan tangan kaka ku. Aku tersenyum, kulihat tempe orek dan tempe goreng, karena aku terbiasa masakan pedas, aku ke warung untuk membeli keripik yang agak pedas sebagai pelengkap. Karena menanyakan sambal kepadanya kala itu hanya akan memunculkan perang dunia ketiga.
Dia kembali dari warung, tak berani berkata banyak aku hanya menyisipkan sebuah pesan, "Masaknya agak dipedesin ya", lalu aku bergegas pergi karena takut, dia hanya diam. Dia lalu bergegas masak untuk makan kami nanti siang.
Telah berlalu setengah jam, aku yang mondar-mandir dapur agak tak sabar sambil memperhatikan apa yang dia kerjakan. Ohh.., begitu repotnya menjadi seorang ibu, sesekali aku bertanya, "Apakah proses memasak harus serepot itu?", pantas saja wajahnya sering murung saat aku tak menghabiskan masakannya.
Waktu sekitar pukul sepuluh lewat, dari dapur dia menghampiriku yang sedang duduk di depan, "Nih, simpen aja dikamar!" sambil menyodorkan semangkuk lauk yang dia pisahkan khusus untukku, dia tahu sudah kebiasaan ku telat makan.
Aku tersenyum mencoba membalas kemuliaan hatinya. tak pikir panjang bahkan sebagian lauknya langsung aku makan, walau saat itu perutku masih kenyang dengan sarapan yang dibuatnya pagi tadi.
Kebetulan hari itu jadwalnya pengajian ibu-ibu, sambil bergegas pergi dia berpesan, "Bilang bapak, lauknya disana semua, sengaja ditutup takut dimakan kucing, kalo udah dirumah langsung suru makan,". Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya, aku selayaknya bapakku, hobi kami telat makan, haha.
Dengan senyum aku langsung menganggukkan kepala sambil berkata, "Siap Bos!" dan haripun berlalu seperti biasanya.
Comments
Post a Comment