"Nak, Untuk Apa Kau Sekolah?"
Percakapan Ayah dan Anak;
Nak, bagaimana sekolah mu hari ini?
Baik yah, guru memberikan semangat untukku hari ini,
Oh ya? Apa ucapnya?
Dia berkata bahwa aku harus mahir dibidang keahlian ku ini yah,
Wah itu baik, namun untuk apa nak?
Agar nanti aku mendapatkan pekerjaan yang baik yah, karena aku ahli, jadi aku tidak akan menjadi pegawai biasa yah, dan pekerjaanku tentu akan lebih ringan karena setidaknya aku hanya mengawasi.
Kalau Ayah boleh tahu, memang apa tujuanmu menuntut ilmu nak?
Agar aku bisa bekerja di perusahaan yang mewah dengan gaji yang besar,
Dengan pekerjaan yang ringan?
Iya yah (tersenyum), untuk itu aku semakin giat dalam belajar.
Nak (sambil memegang kedua bahu anaknya), kemauan mu belajar untuk menjadi seorang ahli amatlah baik, namun menurut Ayah, niat mu kurang tepat, ayah amat menyayangkan nasihat gurumu itu yang sebenarnya baik namun kurang tepat,
Kenapa yah?
Tidakkah kini kamu belajar dengan begitu giat agar kelak kau bisa bermalas-malasan?
(sang anak merenung)
Nak, jika kau ingin belajar, belajarlah dengan giat, namun milikilah cita-cita yang besar,
Apa itu ayah?
Jadilah "Pencipta" bukan pekerja,
Tapi aku menyukai dunia kerja Ayah,
Maka ciptakanlah Lapangan Pekerjaan,
Untuk menciptakan lapangan pekerjaan, aku membutuhkan modal dan keahlian yah, bukankah untuk itu aku harus bekerja?
Iya, itu memang proses yang harus kau jalani, bukankah kau pernah kecil sebelum menjadi sebesar ini?
Iya yah aku mengerti,
Lalu apa bedanya dengan yang lainnya yah?
Bila kamu mengikuti niat mu sebelumnya, maka pendidikanmu yang bertahun-tahun kau jalani hanya untuk uang nak, dan itu yang kebanyakan orang lakukan, setelah mereka mendapatkan uang, maka hidupnya terhenti sampai disitu.
Aku belum sepenuhnya mengerti ayah,
Ilmu apa yang paling baik? (tanya sang ayah sambil menatap mata anaknya)
Mmm.. aku tidak tahu ayah, begitu banyak ilmu di dunia ini,
Nak, Ilmu yang paling baik itu adalah "ilmu yang bermanfaat"
(sang anak mengangguk)
Jika kau fokuskan hidupmu atau Ilmu mu hanya untuk hidupmu sendiri saja, maka hidupmu masih sia-sia, kau belum berguna, begitupun Ilmu yang kau miliki,
Namun apa aku bisa melakukan itu semua ayah?
Kau hanya perlu berusaha, biar Tuhan yang menentukan,
Sampai berapa lama ayah?
Hingga dirimu pantas,
(sang anak tersenyum), sesungguhnya akupun menyukai dunia pendidikan ayah,
Maka ciptakan orang-orang pintar dengan akhlak yang mulia,
Apakah aku harus menjadi seorang guru sambil bekerja untuk memenuhi cita-cita ku?
Jika kau bisa, namun ketahuilah nak, Guru adalah pendidik, jika kau mampu memberi pendidikan, berbagi ilmu pengetahuan yang kamu miliki, maka kau seorang guru,
Maukah ayah mendampingiku untuk mewujudkan cita-cita dan mimpiku?
Hingga ayah menutup mata nak (sambil tersenyum)

Comments
Post a Comment