Jangan Menjadi Orang Yang Keliru
Rumah mewah, harta yang berlimpah. Motor, mobil, bahkan pesawat kalau kita mampu tentu akan terasa indah jika dimiliki.
Sejak kecil kita belajar, mulai dari sekolah dasar, menengah, bahkan hingga jenjang yang lebih tinggi dengan mencurahkan keringat, tenaga, pikiran dan biaya yang tidak sedikit. Berharap kelak ketika dewasa mampu mewujudkan itu semua.
Beruntungnya ketika dewasa impian itu menjadi kenyataan, pekerjaan yang mapan, rumah mewah, serta harta yang berlimpah pun dimiliki, tak luput juga berbagai aksesoris bernilai tinggi ikut menghiasi.
Namun karena ini Dunia, tidak semua orang seberuntung itu. Alangkah beruntungnya kita.
Dengan penghasilan dan kemewahan seperti itu, tentu kita menjadi orang yang sangat sibuk. Pagi hingga sore di kantor dengan segudang pekerjaan yang tentu tidak sesederhana penjual gorengan. Bahkan tak jarang hingga larut malam. Dan di hari libur tentu kita gunakan untuk bersantai-santai memanjakan diri.
Dengan penghasilan yang besar, tentu bersantai dengan mengeluarkan biaya yang diatas rata-rata bukan menjadi soal yang merepotkan, toh itu sebagai sebuah penghargaan atas dedikasi tubuh ini yang setia dan bertahan bekerja demi memenuhi kebutuhan dan keinginan.
Sebagai kaum yang 'produktif' segala sesuatu haruslah menghasilkan, misalkan saja gadget, semua kontak terprioritaskan kepada kolega-kolega penyambung rupiah. Tak ada waktu untuk yang tak menghasilkan, bahkan tak jarang tak ada waktu untuk membalas kerabat yang hanya menanyakan kabar.
Karena kita orang 'produktif' dengan segudang kesibukan yang terbiasa dengan kehidupan diatas rata-rata masyarakat pada umumnya. Melihat mereka yang diam, atau kurang 'produktif' menjadi sangat mengasingkan.
Dahulu dikala sekolah, nikmatnya gorengan pinggir jalan masih sangat terasa. Namun kini, untuk mengimbangi diri kita yang sekarang, tak layak jika tidak makan di tempat yang berbau kebarat-baratan.
Alhasil, perlahan gaya hidup kita semakin tinggi diatas rata-rata masyarakat pada umumnya. Seiring berjalannya waktu, kita semakin hari semakin jauh. Karena semakin jauh, kita jadi lupa nikmatnya masa-masa dahulu dikala sederhana, masa-masa yang di negara kita dianut oleh sebagian besar rakyatnya. Karena gaya hidup yang diambil sudah berbeda, maka timbul lagi perasaan asing kepada mereka.
Karena sudah merasa asing, maka pandangan kita pun mulai berbeda. Kepada penganggur, tukang parkir, pemulung, tukang gorengan pinggir jalan, bahkan karyawan yang penghasilan uangnya dibawah kita. Tak hanya itu, dengan rumah mewah dan harta yang berlimpah yang kita miliki, tetangga yang sederhana pun seakan luput dari pandangan kita.
Perlahan kita mulai mendengar 'sentilan' orang di sekitar kita dengan istilah 'sombong'.
Mendengar ucapan itu, lantas hati kita membara seraya berkata, "Ini jerih payahku, aku bekerja keras, aku pantas mendapatkan dan menikmati semua ini. Mereka hanya 'iri' kepadaku", dari situ malaikat yang sedaritadi memperhatikan telah menyaksikan dan memastikan bahwa ada kesombongan pada diri kita. Dicatatlah itu, diberi tanda, jadilah itu sebagai bibit kehancuran seperti halnya yang telah dilakukan Setan dahulu.
Diluar cibiran terus datang, dan kita semakin tidak perduli, toh ucapan mereka hanya omong kosong. Kita masih bisa menikmati makan di restoran mahal, jalan-jalan, bahkan liburan keluar negeri. Mengadakan pesta, berkumpul dengan para orang-orang yang sederajat tentulah lebih mengasyikkan ketimbang memperdulikan ucapan orang diluar sana.
Karena kita orang yang 'katanya' cerdas, cibiran-cibiran seperti itu tentu menjadi bahan bakar untuk membuktikan dengan semakin memperkaya diri, dengan harapan mulut mereka akan tersumpal oleh kenyataan siapa yang lebih unggul. Dengan kemampuan yang kita miliki, apa yang kita targetkan akhirnya tercapai. Uang dan harta benda yang kita miliki semakin berlimpah.
Ternyata cibiran itu semakin berkurang, bahkan tak jarang beberapa orang datang menghampiri kita untuk meminta bantuan. "Hahaha... akhirnya aku bungkam kalian, terbukti aku lebih unggul dan tak hanya bermulut besar" ucap kita dalam hati. Karena kita merasa menang, seliter dua liter beras bukanlah menjadi halangan, lalu kita berikan. Namun khusus bagi mereka yang dahulu mencibir, tertanam dihati bahwa sebutir beraspun tak akan kita berikan.
Jadilah kita orang kaya yang 'katanya' dermawan.
Kita semakin bangga dengan hasil kerja keras kita selama ini, lihatlah mobil mewah ini yang bukan hanya dua atau tiga unit, belum lagi motornya, yang ternaung dalam bangunan yang megah dan indah dengan taman-taman. Tak terhitung dengan manual simpanan uang yang kita miliki yang kita simpan di bank, bahkan lebih dari satu bank. Belum lagi melihat para orang-orang malas dan miskin yang suka datang kesini untuk meminta bantuan. Wah betapa bangganya.
Kita masih hidup hingga saat ini, dengan kebanggaan atas harta benda yang kita miliki. Dengan uang kita dapat berkuasa, orang-orang tunduk dengan kita, bahkan para aparatur pemerintah ditempat kita tinggal. Betapa bangganya diri ini, kini kita menjadi orang yang besar. Dan merasa layak memandang rendah orang lain yang tidak selevel dengan kita.
Namun pada suatu siang yang panas, bahkan sangat panas dikala itu, hingga tak sedikit keringat yang mengucur di tubuh kita, kita dikejutkan dengan sebuah hadis yang tak sengaja kita dengar di media dari seorang ulama yang berbunyi,
"Dua raka'at fajar (shalat sunnah qobliyah subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya." (HR. Muslim).
Sholat sunnah? yang hanya Dua raka'at? Lalu, apalah arti dari semua harta yang selama ini kita banggakan, sedangkan yang kita miliki bahkan hanya Nol koma sekian persen dari dunia dan seisinya.
Dan yang selama ini tidak kita sadari, disamping kita tengah bersiap malaikat yang akan mencatat apa tindakan kita selanjutnya.

Comments
Post a Comment