Untuk Saudaraku di Palestina
Assalammualaikum,
Saudaraku,
Apa kabarmu disana?
Oh maaf, maafkan aku,
Maafkan pertanyaanku yang terlalu naif itu,
Saudaraku,
Aku mendengar dimedia ada lagi yang mati,
Apakah dia anakmu?
Atau ayahmu? Ibumu? Saudara perempuan/laki-laki mu?
Atau tetanggamu? Kerabatmu?
Kudengar mereka diperlakukan tak selayaknya manusia,
Aku sempat melihat gambarnya,
Namun aku segera menutup mata,
Tak tahan dengan apa yang aku lihat kala itu,
Saudaraku,
Sudah berapa banyak yang menjadi korban?
Oh lagi-lagi, mohon maafkan, maafkan pertanyaan bodohku ini,
Kami sesungguhnya tahu bahwa ribuan nyawa telah melayang,
Dari Syuhada, wanita, bahkan anak-anak tak berdosa,
Mereka yang dianiaya, disiksa, dirampas hak-hak kemanusiaannya,
Mereka yang mati dan tergeletak di pinggiran jalan,
Mereka yang diintimidasi dengan teror dan ketakutan
Bahkan untuk mendapatkan pendidikan seorang bocah harus berhadapan dengan senapan,
Terlebih lagi makanan dan jaminan kesehatan,
Maafkan, tolong maafkan kami yang masih berpura-pura tidak tahu,
Saudaraku,
Kerabat kita yang lain berkata bahwa ini masalah pribadi antar agama,
Benarkah begitu?
Bukankah pernyataan itu terlalu naif?
Aku berkata kepadanya,
Bukankah kita manusia?
Bukankah Agama seharusnya menyempurnakan kita menjadi manusia seutuhnya?
Tanpa Cacat, tanpa Ambisi menyimpang, tanpa Haus Kekuasaan, tanpa Lapar akan dunia yang fana?
Lalu mengapa dia berfikir karena Agama manusia justru bisa saling melukai seenaknya, bahkan hingga menghilangkan ribuan nyawa?
Tidakkah dia tahu aturannya? Atau sesungguhnya dia tidak beragama?
Lalu kemana buah nyata kalimat HAK ASASI MANUSIA?
Lalu kemana kata KEMANUSIAAN?
Kemana kata KEADILAN?
Kalau dari OPINI saja sudah jauh dari MORAL PERDAMAIAN, KEPEDULIAN,
Saudaraku,
Aku pernah mengalami hal lucu saat ribuan orang mendadak perduli kepadamu,
Ya, haha.. aku tahu kau sedang tersenyum geli mendengarnya, ku yakin kau pun tahu,
Ya, saat hal itu menjadi TRENDING TOPIC yang membuat 'keren' mereka yang melakukannya,
Hhmh.. Entahlah apa yang mereka maksudkan sesungguhnya,
Saudaraku,
Maafkan karena aku tak bisa banyak membantumu,
Oh, celakanya aku, lagi-lagi lidahku keliru,
Kau pernah berucap bahwa DO'A adalah senjatamu,
Maka semoga SELURUH DUNIA berdo'a untukmu,
Dan semoga Tuhan meridhoi agar aku turut serta bersama mereka,
Saudaraku,
Semoga untaian kata ini mampu mengingatkan tentang mu kepada saudara-saudara kita lainnya diluar sana,
Untuk sama-sama menunjukkan kepedulian secara nyata walau tak kasat mata,
Dan semoga bisa menjadi pengobat gelisah dihatiku,
Dari Aku,
Saudaramu.
Wassalammualaikum,
(Catatan; mengapa saya tidak mencantumkan foto-foto menyedihkan dari korban perang di Palestine, Gaza, Suriah dan sebagainya, karena kita DAPAT DENGAN MUDAH MENEMUKANNYA di internet. Lalu mengapa foto-foto itu tidak menjadi sebuah masalah/ancaman? Karena terbukti dengan begitu banyaknya fakta berupa foto-foto yang ada, kita tetap tidak meresa terganggu (dalam kata lain tidak perduli) dengan KEADAAN MEREKA. Silahkan saja tes kepedulian Anda!)

Comments
Post a Comment